Sabtu, 07 April 2012
Rahwana Sang Angkara Murka
Rahwana Sang Angkara Murka
Inilah aku, si angkara murka. Sebutkan jenis kejahatan yang kalian ketahui. Aku pasti sudah melakukan semuanya.
Mungkin sebentar lagi aku akan melepas nyawa. Atau terjepit abadi tertimpa Gunung Suwela. Sungguh tak bisa kulawan pusaka Guwawijaya, bahkan dengan Pancasona yang bertahun-tahun menggetarkan jagat raya. Tapi aku puas dengan segala lelakon hidupku. Membuat kekacauan di pelbagai pelataran. Aku bisa tertawa sambil melepaskan nyawa.
Kecuali satu hal yang membuatku menyesal.
Kecuali satu hal yang membuatku menyesal.
Kuakui, warna hidupku memang hitam legam. Lebih hitam daripada malam yang mencekam. Namun, benarkah aku tengah berhadapan dengan lawan yang berwarna putih? Sungguhkah hidup hanya terdiri dari warna hitam dan putih?
Bahwa aku terlahir sebagai angkara, sesungguhnya, bukanlah atas kehendakku. Keangkaraanku hanyalah karma dari perbuatan ayah dan ibuku. Ayahku, Begawan Wisrawa, adalah seorang resi yang tak mampu menilai dirinya secara bijaksana.
Lihatlah hikayatnya yang sudah menjadi legenda. Ia datang ke Alengka, menghadap Prabu Sumali, sahabatnya sendiri, untuk meminang sang putri, Dewi Sukesi, melalui sayembara yang mereka adakan. Bukan untuk dirinya, tentu saja, melainkan bagi anaknya yang tercinta, Danaraja. Namun apa yang terjadi?
Ayahku memang resi yang sangat sakti. Karena itu, dengan mengerahkan segala ilmunya, ia bisa memenuhi syarat pertama sayembara, yaitu mengalahkan Jambumangli, adik Prabu Sumali, yang sebelumnya tak terkalahkan oleh ksatria dan resi mana pun.
Ia pun siap untuk memenuhi syarat yang kedua, sebagaimana diminta Sang Dewi, yakni rahasia ilmu yang terkandung pada ajian Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
O, belum pernah ada manusia yang bisa memahami rahasia ajian ini.
Kecuali Begawan Wisrawa.
Dan bahwa sesungguhnyalah Sang Begawan, ayahku itu, enggan menguraikan rahasia Sastra Jendra. Hanya demi sang putra tercintalah ia bersedia melanggar keyakinannya sendiri. Kecuali ayahku, tak ada orang yang mencapai taraf kesempurnaan hidup. Dan ia harus menguraikannya kepada seorang wanita muda yang cantik tak tertara.
Keduanya, Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, harus berada di dalam sebuah ruangan yang sunyi, tak boleh terganggu hiruk-pikuk dunia di sekitarnya, kalau tak ingin pemaparan rahasia itu menemui kegagalan.
Sunyi, temaram, dengan cahaya yang hanya berasal dari lubang-lubang angin di keempat dindingnya. Keduanya duduk berhadapan, dengan jarak hanya sejangkauan tangan. Sukesi menatap wajah tua Wisrawa, dan sang begawan memandang titik di antara kedua mata cemerlang sang dewi.
Dengan suara perlahan, dibukalah segala rahasia yang terdapat dalam Sastra Jendra.
Ah, aku bukanlah pemilik rahasia Sastra Jendra. Karena itu, pengetahuanku hanyalah sebatas permukaan, yakni bahwa Sastra Jendra adalah ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi, ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Orang yang menguasai Sastra Jendra akan terbebaskan dari segala petaka. Jika mati, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia-manusia yang telah sempurna, berkumpul dengan para dewa yang mulia.
Orang yang menguasai Sastra Jendra akan terbebaskan dari segala petaka. Jika mati, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia-manusia yang telah sempurna, berkumpul dengan para dewa yang mulia.
Namun, suara pelan sang Begawan ternyata mampu mengguncang Suralaya. Menimbulkan gempa dan angin puting beliung yang memorakporandakan istana para dewa.
Batara Guru, yang paham atas apa yang terjadi, segera turun ke arcapada, diiringi Sang Permaisuri. Sebagai dewa yang mahatahu, ia sadar, Sastra Jendra tak boleh terbuka oleh siapa saja. Kalau manusia bisa memahami intinya, kelak tak akan ada lagi fungsi para dewa, karena manusia akan bisa menjadi setaraf dewa. Takdir mengharuskan hal itu tak boleh terjadi.
Batara Guru dan Dewi Uma segera merasuki Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, menggelitiki titik-titik lemah keduanya.
Begawan Wisrawa memang pendeta yang sakti, halus budi pekerti, dan waskita. Tapi ia juga manusia biasa, yang ternyata masih menyimpan nafsu lahiriah. Apalagi di hadapannya adalah seorang wanita yang kecantikannya tak tertandingi, dengan kulit seperti pualam dan rambut laksana air terjun, yang mengeluarkan harum tujuh bunga merayapi kedua lubang hidungnya.
Baik Begawan Wisrawa maupun Dewi Sukesi tak berdaya menghadapi godaan. Dada mereka terbakar oleh nafsu yang makin lama makin membara.
Dan terjadilah apa yang dikehendaki Maharaja Dewata.
Berbulan kemudian, benih nafsu mereka menumbuhkan angkara pada keturunannya. Dan inilah aku, yang ketika lahir membuat ayahku membisu dan ibuku terguguk. Sesuatu yang mengherankan. Bukankah siapa menabur nafsu akan menuai angkara? Aku langsung terlahir dengan sepuluh kepala dan dua puluh tangan, berwujud raksasa yang menggiriskan. Mungkin karena terlampau kecewa, ayah dan ibuku kemudian enggan memeliharaku.
Aku dibuang kepada kakekku, Prabu Sumali, yang justru bisa menerima keadaan fisikku yang berukuran besar di luar nalar.
Beberapa waktu kemudian, aku tahu ayah dan ibuku kecewa ketika lahir anak kedua yang lebih raksasa dariku dan anak ketiga yang juga raksasa meskipun berjenis kelamin wanita.
Ah, benarkah aku terlahir dan kemudian besar hanya untuk mengumbar angkara?
Boleh jadi kalian tak banyak yang tahu. Kakekku, Prabu Sumali, mendidikku agar gemar bertapa dan menjalani pati geni. Ia pernah berbisik bahwa ia ingin aku kelak menjadi satria yang mandraguna tanpa tara, memiliki kelebihan dari siapa pun.
Di puncak Gunung Gohkarna, yang tak pernah diinjak manusia sebelumnya, aku melakukan tapa mati raga. Hitunglah, aku melakukan tapa lima tahun bagi tiap kepala. Jadi, untuk bertapa bagi kesepuluh kepalaku, aku mematikan ragaku tak kurang dari lima puluh tahun. Adakah manusia lain yang menjalani tapa seperti yang aku lakukan?
Batara Guru sendirilah yang turun dari Suralaya ke puncak Gohkarna ketika tapaku tiba pada ujungnya.
“Apa yang kauinginkan dengan mati raga lima puluh warsa?” tanya Batara Guru. Mataku silau oleh pancaran cahaya dari sekujur tubuhnya.
Aku menjawab jujur apa adanya.
“Hamba ingin mendapat kesaktian dan kedigdayaan melebihi siapa pun penghuni arcapada. Bukan hanya yang ada di atas bumi, melainkan juga segala makhluk di bawah bumi, bahkan jauh di Suralaya. Hamba ingin bisa bertiwikrama menjadi sebesar Gohkarna.”
Batara Guru tampak terpana. Namun ia tak bisa menarik kata-katanya. “Kupenuhi segala permintaanmu.”
Nah, apa yang salah dengan jalan hidupku?
Lima puluh tahun aku bersembunyi di gunung yang terlampau sunyi, tak tahu apa pun yang terjadi di bawah sana.
Atau mungkin justru itulah pangkalnya. Aku terlampau lama bertapa dan belum sepenuhnya siap menjelajahi dunia ketika tiba-tiba mataku terkesima oleh sebuah cahaya yang memancar dari wajah jelita. Sangat jelita. Aku yakin, wajah ibuku yang pernah menggemparkan tak kan ada sepersepuluhnya.
Orang memanggilnya Sinta.
Benar, dia wanita yang didamba siapa saja. Salahkah kalau aku juga memendam cinta?
Ya, cinta.
Inilah mungkin yang menjadi pangkal bencana sehingga aku kemudian dikenal sebagai sang angkara.
Padahal, hanya satu kesalahannya: dia sudah menjadi milik Rama. Dan satu kesalahanku: aku dibakar cinta.
Tapi aku memang berhasrat memilikinya. Aku tak peduli apa pun caranya. Sinta harus menjadi bunga Alengka, seperti ibuku dulu menjadi bunga yang memancarkan keindahannya ke seantero dunia.
O, putri Mantili, mungkin aku menyesal karena sayembara itu terjadi ketika aku masih mesu diri di Gohkarna sehingga seakan-akan hanya ada satu orang yang mampu mengangkat dan mementangkan Gendewa. Tapi tak apalah. Aku yakin bahwa aku belum terlambat untuk memilikinya. Ayodya hanyalah sepetak tanah kecil dibanding Alengka dan negeri-negeri lain yang sudah kutaklukkan seperti Maespati dan Lokapala, dan bagiku Rama terlampau lemah lembut meski kabar sampai juga kepadaku bahwa ia Sang Wisnuputra.
Aku memang menculik Sinta ketika sang jelita justru ditinggal Rama yang terkecoh oleh sebuah permainan sederhana. Lagi pula, untuk apa dewi secantik dia harus menderita di rimba raya?
Kalian tahu, Sinta kutempatkan di bagian istana Alengka yang paling indah. Dan kalian tahu, aku tak pernah menjamahnya meskipun bisa saja kalau hanya kuturuti nafsu belaka.
Aku menawarkan cinta.
Lebih besar daripada yang sudah diberikan Rama.
Ah, Sinta, betapa besarnya cintaku, melebihi apa pun di dunia. Aku rela mempersembahkan apa pun yang kau minta, walaupun harus memindahkan istana Maharaja Suralaya.
Oh, tak pantaskah aku memendam cinta yang membara?
Tak pantaskah raksasa buruk rupa mencinta wanita yang jelita? Bukan salahku terlahir dengan wajah yang buruk tak terkira. Dan bukan salah Sinta, tentu saja, dikaruniai keindahan luar biasa. Dan apakah aku salah memiliki cinta? Bukankah cinta tumbuh begitu saja, tanpa pernah ada rencana?

Kuhadapi segala tantangan, kutaklukkan segala rintangan, meskipun harus pecah perang yang tak pernah kukira. Perang besar yang menghanguskan separo jagat.
Kuhadapi segala tantangan, kutaklukkan segala rintangan, meskipun harus pecah perang yang tak pernah kukira. Perang besar yang menghanguskan separo jagat.
Semua demi cinta.
Dan aku bangga karenanya. Kuhadapi semua bukan demi kemasyhuran atau nama besar. Aku merasa apa yang sudah kumiliki sebelumnya lebih besar daripada sekadar kemasyhuran. Aku lebih perkasa dari siapa pun. Aku lebih digdaya dari semuanya. Aku raja dari segala maharaja.
Hanya satu yang belum kuraih.
Dicinta.
Aku memiliki dan dengan sepenuh hati kuberikan cinta. Karena itu kudambakan juga cinta dari orang yang kucinta. Bukankah itu wajar? Aku mencinta dan aku ingin dicinta. Bukan oleh siapa saja, melainkan oleh Sinta.
Ah, Sinta.
Sayang, demi cinta, aku harus menghadapi nyaris seluruh dunia, bahkan Suralaya. Hanya dibantu rakyatku serta satu adikku, juga anakku, aku menghadapi Rama yang didukung para raja perkasa, bahkan juga salah satu adik kandungku sendiri. Aku, manusia yang meraih taraf kedigdayaan melalui upayaku sendiri, berhadapan dengan lelananging jagat yang memang sudah ditakdirkan untuk menandaskan segala jenis angkara, mendapat bantuan dari para raja, juga resi dan brahmana, serta satria anak-anak dewa, dan bahkan mendapat lindungan dari para dewa sendiri.
Aku bangga. Rakyatku telah bertarung dengan gagah perkasa. Anakku maju dengan dada yang penuh gelora. Adikku pun berlaga dan kemudian perlaya menjadi bunga negeri.
Dan aku maju menadahkan dada dan muka demi keyakinan yang tak juga goyah.
Cinta.
Kuhadapi Rama meski aku tahu bahwa sudah tercatat di garis takdir aku akan perlaya di ujung Guwawijaya.

Hanya saja, sebelum aku melepas nyawa, ketahuilah bahwa tak ada warna putih di atas dunia. Bahkan para dewa, serta maharaja para dewa, menggambar lembar-lembar hidupnya juga dengan goresan nafsu kelabu. Bagaimana mungkin Sang Manikmaya terpikat oleh sang istri di punggung Lembu Andini? Kenapa para dewa juga bisa tergoda oleh wanita-wanita arcapada?
Hanya saja, sebelum aku melepas nyawa, ketahuilah bahwa tak ada warna putih di atas dunia. Bahkan para dewa, serta maharaja para dewa, menggambar lembar-lembar hidupnya juga dengan goresan nafsu kelabu. Bagaimana mungkin Sang Manikmaya terpikat oleh sang istri di punggung Lembu Andini? Kenapa para dewa juga bisa tergoda oleh wanita-wanita arcapada?
Pahamilah bahwa sang lelananging jagat pun bukanlah satria sempurna. Ia lebih suka mementingkan diri sehingga sang istri dan ayah sendiri tak tahan lagi. Bukankah Dasarata tewas karena kesedihan tak tertahankan oleh kepergiannya ke hutan? Bukankah Rama sendiri tega meninggalkan sang istri demi mengejar sebuah bayang-bayang yang tak nyata? Dan kesalahan yang paling besar, bukankah ia mencurigai sang dewi telah ternoda oleh tangan kasarku sehingga harus menghadapi hukuman tak terkira: terjun ke dalam kobaran api?

Tiap detik, aku memang selalu membayangkan tubuh Sinta seperti membayangkan getaran kepundan Gunung Gohkarna. Namun, aku tak pernah menjamahnya karena aku berharap sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar semburan magma. Yakni cinta.
Tiap detik, aku memang selalu membayangkan tubuh Sinta seperti membayangkan getaran kepundan Gunung Gohkarna. Namun, aku tak pernah menjamahnya karena aku berharap sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar semburan magma. Yakni cinta.
Karena itu, biarlah aku mati dengan rasa puas di hati. Bahwa sebenarnya keangkaraanku yang terang-terangan tidaklah seberapa dibanding ribuan angkara yang bersaput wajah Brahmana. Aku yakin, angkara yang demikian jauh lebih berbahaya dibanding sekadar angkara seorang Rahwana.***
Jatasura
Jatasura
Sebagai saudara seperguruan, Jatasura dan Maesasura hidup dalam satu jiwa. Artinya bila salah satu diantara mereka mati dan dilangkai oleh yang masih hidup, maka yang mati akan hidup kembali. Karena kesaktiannya tersebut, Jatasura sangat mendukung keinginan Prabu Maesasura untuk memperistri Dewi Tara, bidadari Suralaya putri Sanghyang Indra dari permaisuri Dewi Wiyati. Ketika lamarannya ditolak Bathara Guru., mereka mengamuk di Suralaya dan berhasil mengalahkan para dewa.
Bathara Guru kemudian meminta bantuan Subali dan Sugriwa, putra Resi Gotama dengan Dewi Windradi/Indradi dari pertapaan Erraya/Grastina yang sedang bertapa di hutan Sunyapringga. Jatasura dan Maesasura akhirnya mati sampyuh, kepala mereka diadu kumba hingga pecah oleh Resi Subali yang memiliki Aji Pancasona.
Sejuta Halilintar Dalam Sedetik
Sejuta Halilintar Dalam Sedetik
Sebuah tragedi cinta segi tiga yang rumit, penuh pengorbanan, dan sangat menghancurkan; karena melibatkan perselingkuhan dengan saudara kandung, ditambah dengan sebuah fenomena ‘titisan’ yang pada masa lampau disebabkan oleh terjadinya suatu skandal yang menggemparkan dan sangat memalukan di dunia kahyangan para dewa-dewa.
Biasanya, drama tragedi cinta selalu berkait erat dengan wanita sebagai korban. Tetapi kali ini, kita berhadapan dengan tokoh laki-laki yang menjadi korbannya….
Biasanya, drama tragedi cinta selalu berkait erat dengan wanita sebagai korban. Tetapi kali ini, kita berhadapan dengan tokoh laki-laki yang menjadi korbannya….
Tiba-tiba ia diam tertegun, terpaku tegak bagaikan patung batu tak bergerak. Lamat-lamat terbawa sang samirana, terdengar Tembang Sendhon Tlutur yang merujit perasaan di tengah remangnya cahaya bulan purnama yang sendu, membuat bayangan hitam dahan-dahan pohon tua yang kering meranggas di atas tanah datar bebatuan.
Bayangan hitamnya, seakan mencakar langit, seperti jari-jari tangan yang putus harapan, menggapai harapan yang musnah ditelan cerita parwa di alam janaloka. Suara desah resah tembang merana, diterpa suara rebab menyayat, melabuhkan suasana kiamat. Sesekali disentuh lengking bunyi seruling, menggemakan rasa merontokkan sukma. Sekelompok burung camar, terbang di pantai Samodra Utara, melayang terbang terbanting-banting di tengah badai.
Awan hitam kelam bergulung-gulung menakutkan, mengalir berubah-ubah rupa, bagaikan sekawanan jin setan perayangan. Menari membawa petaka di alam raya, menenggelamkan rasa yang hilang tak bermakna. Perlahan bagai tak terasakan, seakan hendak menyembunyikan diri di dalam kelam, terdengar suara tembangnya merana….
Kingkin saya markiyu,
Rinasa saya karasa,
O,
Angantya wuwusing dewa,
Awignam hastu wijil ing lathi,
O,
O,
Riris karasa sajroning nala,
Karasa lir jaka lola,
Kadya riniris rasane,
Mung sira puspitaningsun,
Sesotya pindha pepadhang,
Jroning kalbu salawasnya,
O,
Ri kalanta anglila ingsun,
O,
O. [1]
Rinasa saya karasa,
O,
Angantya wuwusing dewa,
Awignam hastu wijil ing lathi,
O,
O,
Riris karasa sajroning nala,
Karasa lir jaka lola,
Kadya riniris rasane,
Mung sira puspitaningsun,
Sesotya pindha pepadhang,
Jroning kalbu salawasnya,
O,
Ri kalanta anglila ingsun,
O,
O. [1]
Terbayanglah, Sang Boma Nara Sura yang gagah perkasa itu, sama sekali tak berdaya saat menghadapi takdirnya sebagai laki-laki. Berdirinya tak kokoh lagi, lemas lunglai raganya, bagai tak bertulang lagi.
Rubuhlah segala daya tubuhnya, tak kuasa menyangga berat raganya. Bumi seakan kiamat, saat mendengar pengakuan Hagnyanawati permaisurinya, yang jatuh hati kepada Samba sang pembawa petaka.
Hari bahagia, seketika berganti dengan badai guntur yang menakutkan. Berita terdengar bagaikan sejuta halilintar menyambar bersama ke bumi dalam sedetik. Meluluh-lantakkan seluruh kekuatan yang semula menopang raganya. Keringat dingin seketika mengalir deras tak tertahankan dari tubuhnya bagai disadap. Lenyap sudah segala yang dimilikinya. Lenyap sudah harga dirinya sebagai seorang penguasa. Lenyap pula kehormatannya sebagai seorang laki-laki….
Bathara Kamajaya Dadi Pralambang Priya Kang Sampurna
Bathara Kamajaya Dadi Pralambang Priya Kang Sampurna
Bathara Kamajaya iku putrane Sanghyang Ismaya lan Dewi Sanggani. Dewi Sanggani dhewe ora liya putrane putri Sanghyang Wenang kang kaping sanga. Bathara Kamajaya iku kondhang duwe pasuryan kang bagus banget, dedeg piyadege uga sampurna.
Yen ing arcapada ana Arjuna kang dadi pralambange priya kang sampurna pasuryan lan dedeg piyadege, ing Suralaya ana Bathara Kamajaya. Kayangane sinebut Cakrakembang. Prameswarine asma Dewi Ratih, yaiku putrane putri Bathara Soma.
Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, pasangan Bathara Kamajaya lan Dewi Ratih kondhang rukune, ora tau cecongkrahan, siji lan sijine padha percayane, siji lan sijine padha tresnane, saengga menjila dadi pralambang wong mbangun bale somah kang samesthine.
Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, pasangan Bathara Kamajaya lan Dewi Ratih kondhang rukune, ora tau cecongkrahan, siji lan sijine padha percayane, siji lan sijine padha tresnane, saengga menjila dadi pralambang wong mbangun bale somah kang samesthine.
Bathara Kamajaya iku tresna banget marang Arjuna, lan tansah sumadya mbela lan mbiyantu Arjuna. Ing lakon Cekel Indralaya, Bathara Kamajaya njaga ajining dhiri Dewi Wara Sumbadra, amarga Arjuna katemben nglakoni tapa brata ing pertapan utawa padhepokan Banjarmelati.
Ora anane Arjuna ing sisihe Dewi Wara Sumbadra dimumpangatake dening para Kurawa kanggo nggodha Dewi Wara Sumbadra kang dumunung ing Banoncinawi. Ing lakon Partadewa, nalika Pandhawa murca lan Arjuna jumeneng nata ing Kaindran, Bathara Kamajaya mbela krajan Amarta saka pangrabasane Kurawa.
Bathara Kamajaya lan Dewi Ratih kondhang lan dikenal banget dening sakabehing warga Nuswantara, saengga menjila panemu kang dadi perangane kapercayan yen ana sawijining wanita kang ngandhut jabang bayi sepisanan, diprelokake sarat arupa woh klapa gadhing kang isih enom utawa cengkir gadhing kang banjur kudu digambari Bathara Kamajaya lan Dewi Ratih.
Pangajabe, murih anak turun kang bakal lair saka guwa garbane wanita mau yen lair priya bisaa bagus banget kayadene Bathara Kamajaya, lan yen lair wanita bisaa sulistya ing rupa kayadene Dewi Kamaratih. Sarat cengkir gadhing digambari Bathara Kamajaya lan Dewi Ratih iki kudu disumadiyakake ing adicara tingkeban, yaiku slametan nalika kandhutan umur pitung sasi lan wolung sasi.
Pusakane Sanghyang Kamajaya arupa arupa panah kemayan cakrakembang, yaiku panah kang wujude kayadene kembang pancawisaya. Ing lakon Cakrakembang, Bathara Kamajaya antuk jejibahan nggugah Bathara Guru kang katemben mbangun tapa. Bathara Guru kudu digugah saka tapane amarga Suralaya katekan wadyabalane raseksa Kala Nilarurdaka kang gawe dredah lan rusaking Suralaya.
Kanthi sarana panah sekti kemayan kembang pancawisaya, Bathara Kamajaya kasil nggugah Bathara Guru kang gentur tapane iku. Bathara Kamajaya asring mudhun ing arcapada kanggo mbiyantu Arjuna lan paring pituduh marang Arjuna yen satriya Pandhawa iku katemben ngadhepi reridhu.
Yen katemben mudhun ing arcapada, Bathara Kamajaya tansah malih rupa dadi raseksa alasan kang dikantheni sisihane kang arupa raseksi. Ananging kadhangkala Bathara Kamajaya uga malih rupa dadi macan kumbang.
Ing lakon Partadewa, nalika Arjuna dadi raja tumrap para widadari ing kayangan Tinjamaya, jejuluk Prabu Kiritin, ndadekake praja Amarta ora ana kang mimpin. Jumenenge Arjuna dadi raja ing kayangan Tinjamaya nyebabake Puntadewa, Werkudara, Nakula lan Sadewa ninggalaka karaton Amarta kanggo ngudi dununge Arjuna.
Nguningani yen krajan Amarta ora ana sing mimpin, Bathara Kamajaya ora tega, wusanane Sanghyang Kamajaya mudhun ing arcapada lan jumeneng nata sauntara ing krajan Amarta, jejuluk Prabu Partadewa. Ancase mung pengin njaga nagara Amarta supaya ora dirabasa lan dijeki dening para Kurawa.
Sawise Puntadewa, Werkudara, Nakula lan Sadewa kasil nemokake Arjuna lan padha nglumpuk maneh ing Amarta, Bathara Kamajaya masrahake kalenggahan nata ing Amarta marang Prabu Puntadewa. Wandane Bathara Kamajaya iku Kinanti
Tetuka (Tidak) Sekolah Bertaraf Internasional
Gatutkaca satria Pringgadani, sebelum kelak menjadi pemimpin, oleh para dewa digulawentah atau semacam disekolahkan ke kawah Candradimuka. Tentu tidak perlu bayar uang gedung, uang ekstrakurikuler, uang buku, uang seragam, uang badge, yang jumlahnya ndak bisa dibayangkan sebelumnya. “Jutaan rupiah!” Ya, karena Candradimuka memang disiapkan untuk mendadar calon pemimpin dan bukan ‘perusahaan’ calon pemimpin.
Tidak! Karena para dewa tahu, ia akan ‘mencetak’ manusia yang berakal budi luhur dan berjiwa kesatria. Meski tidak mengenal konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang juga tertuang dalam UUD 45, para dewa ini sadar, bahwa pendadaran Jabang Tetuka, tidak saja membuatnya menjadi manusia yang kuat, yang mampu mengalahkan Patih Sekipu yang deksia. Tetapi juga membuat Tetuka menjadi manusia cerdas dan berbudi luhur. Pendek kata, Tetuka berhasil menjadi manusia (kesatria) yang sempurna, berkat dadaran para dewa yang dipimpin Batara Narada.
Tidak! Karena para dewa tahu, ia akan ‘mencetak’ manusia yang berakal budi luhur dan berjiwa kesatria. Meski tidak mengenal konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang juga tertuang dalam UUD 45, para dewa ini sadar, bahwa pendadaran Jabang Tetuka, tidak saja membuatnya menjadi manusia yang kuat, yang mampu mengalahkan Patih Sekipu yang deksia. Tetapi juga membuat Tetuka menjadi manusia cerdas dan berbudi luhur. Pendek kata, Tetuka berhasil menjadi manusia (kesatria) yang sempurna, berkat dadaran para dewa yang dipimpin Batara Narada.
Namun sekuat-kuatnya Tetuka atau Gatutkaca, ia punya titik kelemahan. Dan disanalah takdirnya ditentukan oleh sang Dewa. Gatutkaca harus tewas di tangan Karna. Karena ditangan Karna, tersimpan keris yang warangkanya berada di pusar Gatutkaca. Saat perang Baratayudha itulah antara keris dan kerangkanya menyatu di tubuh Gatutkaca. Gatutkaca pun gugur sebagai satria.
Kawah Candradimuka telah menjadi simbul proses pendidikan/pendadaran diri bagi mereka yang akan melakukan tugas berat sebagai kesatria atau pemimpin. Gatutkaca memang oleh para dewa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin sekaligus pahlawan bagi negerinya Amarta dan keluarganya Pandawa.
Menjadi pemimpin memang tidak hanya bermodal uang dan otot. Tetapi juga keprigelan (kepandaian dan ketrampilan) dalam memanajemen negerinya. Sebagai pemimpin selayaknya dipersiapkan secara matang dengan proses yang tidak instant. Menjadi pemimpin tidak sekedar punya karisma, tetapi di zaman modern seperti ini juga perlu punya wawasan (intelektual) yang layak.
Dari sini kita melihat, negeri kita –bukan Amarta maupun Astina- ini punya kecenderungan, bernafsu menjadi pemimpin hanya bermodal kekayaan, dan tentunya kekuatan otot. Mereka yang didukung banyak orang –meski otaknya kosong- dianggap yang mampu dan bisa memimpin. Kwalitas tidak penting. Yang terpenting adalah pendukung.
Jangan heran kalau menjadi pemimpin saat ini tidak beda jauh dengan pemilihan penyanyi popular di TV-TV. Ganteng, cantik, bisa membuat ibu-ibu dan remaja kesengsem, menangis, tidak perduli mereka tidak bisa membaca partitur, dan suaranya pas-pasan.
Begitupula, kini kita punya kecenderungan memilih pemimpin seperti ini, ‘pokoknya lolos konvensi, didukung banyak orang, berkarisma, membuat adrenalin pendukung naik, dan tidak perduli omongnya omong kosong dari otak yang kosong pula.’
Kita telah terjebak dalam politik citraan. Sebuah politik yang hanya memamerkan kulitnya saja. Tidak ada esensi. Yang terpenting eksistensi citranya. Tak beda jauh dengan iming-iming label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Embel-embel internasional, membuat wali murid ngiler. Tidak peduli harus bayar berapa dan tidak peduli apakah nanti anaknya juga bertaraf internasional atau tidak. Yang penting –demi gengsi- anaknya sekolah yang bertaraf (sering dipelesetkan, bertarif, pen) internasional.
Padahal hemat saya, RSBI atau kemudian juga SBI, tak lain politik citraan di lembaga pendidikan kita. Sekolah yang seharusnya menjadi kawah Candradimuka kini malah berfungsi menjadi semacam mesin pencitraan. Tugasnya hanya membuat sesuatu yang seolah-olah berstandar internasional. Sebut saja karena bukunya dari Singapura, bahasa pengantarnya bahasa Inggris, kurikulumnya mengadopsi kurikulum University of Cambridge, dan nanti lulusannya bisa melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hmmm…dari sekian ratus siswa yang ada di Sumenep, Ngawi, Trenggalek, Pacitan, atau bahkan Surabaya, misalnya, ada berapa siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri?
Jika Depdiknas tidak memiliki data statistik tentang hal ini mengapa tiba-tiba timbul kebijakan untuk mengubah sekolah-sekolah kita menjadi SBI yang berkiblat pada Cambridge? Untuk apa kita mengerahkan seluruh energi dan kapasitas kita membawa siswa menuju ke sistem Cambridge, kalau semua itu justru mengasingkan siswa dari realitas sosialnya?
Kok sepertinya sekolah hanya bertugas menata maneqin (boneka mode) di etalase. Tidak perduli maneqin-maneqin itu boneka lawas, cuman didandani dengan baju-baju mode terbaru, agar diakui masyarakat internasional? Sungguh naif bukan?
Tetuka adalah manusia sempurna. Dan arah pendidikan kita sebenarnya memanusiakan anak didik untuk menuju manusia sempurna sebagaimana yang diidealisasikan oleh tujuan pendidikan nasional.
Kenyataannya, sampai saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai masih belum berhasil untuk mewujudkan kepentingannya, memanusiakan manusia. Selain gagal melaksanakan proses transfer pengetahuan (transfer of knowledge), sistem pendidikan di Indonesia juga gagal membentuk watak peserta didiknya.
Padahal jauh hari sebelumnya Ki Hajar Dewantara telah mengingatkan kita tentang hakekat pendidikan. Menurutnya,� pendidikan merupakan tonggak berdirinya sebuah bangsa yang besar, berdaulat, berharkat, dan bermartabat. Pendidikan bertujuan menanamkan nilai-nilai hidup rukun dan damai di antara semua elemen bangsa, tanpa memandang kelas apapun. Namun kenyataannya sekarang jurang menganga malah semakin jelas.
Paulo Freire, dalam konsep pendidikan, memperjuangkan masyarakat yang mampu berpikiran kritis. Pendidikan tidak lain adalah proses memanusiakan manusia kembali setelah mereka mendapat penindasan, hegemoni, maupun kepentingan-kepentingan politis tertentu yang menyebabkan masyarakat terasing dari realitas lingkungan tempat mereka tinggal dan berinteraksi.
Persis seperti ketika Tetuka usai mengalahkan Patih Sekipu, Kresna dan Arjuna datang, meminta, agar Tetuka tidak lagi menggunakan taringnya. Kresna membebaskan Tetuka menjadi bangsa raksasa. Kresna menjadikan Tetuka sebagai manusia biasa. Sebagai satria yang menggunakan akal budinya untuk hidup.
Dan kini pendidikan kita sedang tercengkeram dalam taring kapitalisme global. Mau tidak mau kita harus melepaskan taring itu, agar pendidikan kita tidak terjebak dalam materialisme belaka, dimana sekolah hanya ditampakan pada fisiknya belaka, dan menghiraukan prosesnya.
Gagrak Lan Pakem
agelaran wayang dan/atau karawitan, di masa sekarang dikenal sebagai suatu pagelaran yang dimainkan menurut suatu ‘gagrak’ (pola, gaya, mahzab, atau corak) dan ‘pakem’ tertentu. Seperti pada lukisan, dikenal ada lukisan gaya naturalis, gaya super-naturalis, gaya abstrak, gaya modern dan sebagainya. Seperti itu pula permainan alat-alat gamelan yang lazim disebut ‘karawitan’. Bahkan kita pada masa sekarang, juga mengenal sejumlah seniman karawitan dan/atau wayang yang menonjol dalam suatu gagrak tertentu.
Sangat mungkin, persoalan ‘gagrak’ tidak terlampau dominan di masa lampau. Mungkin hal ini juga disebabkan sulitnya hubungan komunikasi antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Namun, sejalan dengan perkembangan budaya dan hubungan antar daerah (di masa lampau, biasanya merupakan hubungan antar kerajaan atau perdagangan), berkembang pula sifat-sifat kedaerahan yang diterapkan dalam permainan alat-alat gamelan (karawitan) dan juga pada berbagai permainan wayang. Dengan demikian, akhirnya kita mengenal adanya sejumlah bentuk ‘gagrak’ tertentu, sesuai sifat khas kedaerahan tertentu.
Penerapan gagrak tertentu, tidak saja dilakukan terhadap permainan alat-alat gamelan, tetapi juga terhadap garap, cara memainkan alat gamelan, aransemen, komposisi, pagelaran wayang, bentuk-rupa wayang, jenis wayang, cara berbicara (antawacana), cara menceritakan (janturan), sulukan (nyanyian dhalang), cara nembang (menyanyikan), atau senggakan (vokal pengisi). Bahkan, sampai ke persoalan pakaian adat atau pakaian tradisional yang digunakan, juga bisa sangat berbeda. Semua ini, merupakan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa dan tak ternilai harganya. Perkembangan seperti ini, jelas merupakan suatu perkembangan yang bernuansa positif dan patut dihargai, dan diapresiasi.
Pakem dipahami sebagai suatu ‘kesepatan bersama’ yang dirancang, dibuat, disepakati, dan dipatuhi oleh sekelompok orang (seniman) pendukungnya. Pakem, di masa lampau memang dikembangkan di pusat-pusat kekuasaan, seperti keraton atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan). Jadi bayangkanlah, pakem ini di masa sekarang kita kenal sebagai semacam ‘juklak’ (petunjuk pelaksanaan) atau ‘juknis’ (petunjuk teknis), yang digunakan untuk melaksanakan suatu pagelaran karawitan dan/atau wayang.
Pakem, bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak, dogmatis, dan sama sekali tidak bisa berubah. Meskipun demikian, dukungan yang sangat kuat terhadap suatu pakem tertentu, nyatanya memang ada. Di masa lampau, dominasi pusat-pusat kekuasaan atau pusat-pusat pemerintahan (kerajaan), memang sangat nyata. Karenanya, di masa lalu terjadinya perubahan pakem boleh dikatakan sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Namun, sejalan dengan terjadinya perkembangan budaya dan pergeseran pusat-pusat kekuasaan (pemerintahan), pakem bergeser dan menjadi sesuatu hal yang tidak lagi terlalu dipatuhi sebagai sesuatu yang bersifat dogmatis dan wajib diikuti.
Di sekitar tahun 1966, Ki Narto Sabdo, seorang dalang wayang kulit purwa yang berasal dari Kota Semarang, mulai ‘melanggar pakem’ dengan menerapkan dua gagrak yang berbeda, yaitu Surakarta dan Yogyakarta (Mataraman) dalam setiap pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkannya. Bahkan, pada masa berikutnya, beliau juga menyisipkan gagrak Banyumasan dan bahkan mengkombinasikannya dengan permainan gaya Sunda. Pada awalnya, semua yang dilakukan Ki Narto Sabdo banyak ditentang orang, terutama mereka yang menjadi pendukung fanatik gagrak-gagrak tersebut. Ketidak-sukaan terhadap apa yang dilakukan Ki Narto Sabdo, bahkan sampai pada tindakan pelarangan mementaskan pagelaran di suatu wilayah tertentu.
Tetapi, fakta yang didapat ternyata berbeda. Kelompok-kelompok orang yang menentang Ki Narto Sabdo, berhadapan dengan masyarakat luas yang tidak mempersoalkan apa itu gagrak atau pakem tertentu. Bagi masyarakat pecintanya, pagelaran wayang kulit purwa yang dilakukan Ki Narto Sabdo bisa diterima khalayak penontonnya, serta ‘sangat memenuhi selera dan keinginan’ mereka. Bahkan pada sekitar tahun 1971, hasil polling yang dilaksanakan oleh RRI (Radio Republik Indonesia), menunjukkan bahwa Ki Narto Sabdo merupakan dhalang paling populer di Indonesia (saat itu).
Sejak peristiwa ini, sedikit demi sedikit, pagelaran wayang kulit purwa yang menerapkan beberapa gagrak sekaligus, mulai cair dan tidak lagi dimusuhi atau dipertentangkan. Bahkan, pada masa sekarang, kita bisa melihat permainan dua atau tiga gagrak yang digabungkan dalam satu pagelaran wayang kulit purwa, sudah merupakan kelaziman yang tidak lagi dipersoalkan.
Meskipun kondisi pada masa sekarang sudah sedemikian cair, tetapi pagelaran wayang (yang manapun), sebenarnya tetap berkiblat pada suatu gagrak dan/atau pakem tertentu. Tentu saja, seringkali dilengkapi dengan perubahan, penyesuaian, dan penggabungan dengan gagrak lainnya. Karenanya, pada masa sekarang kita sangatlah beruntung masih bisa menonton pagelaran-pagelaran wayang sesuai dengan gagrak dan/atau pakem tertentu.
Pagelaran gagrak Surakarta
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Surakarta (Solo), umumnya sangat mengeksploitas permainan alat-alat gamelan yang eksotis, rumit, dan anggun.
Pagelaran gagrak Yogyakarta
Di kalangan masyarakat awam, gagrak Yogyakarta lebih dikenal sebagai gagrak Mataraman. Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Yogyakarta (Mataraman), umumnya sangat mengekspolitas permainan alat-alat gamelan yang bersifat ‘asli Mataram’, penuh kerakyatan, dan penuh kebebasan berkespresi.
Pagelaran gagrak Banyumasan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Banyumasan, lebih dikenal karena sangat dekat dengan gagrak Pesisiran. Umumnya menampilkan pagelaran yang bersifat gembira, penuh kelucuan, kerakyatan, banyak menerapkan ‘senggakan’, dan penuh sorak-sorai kegembiraan.
Pagelaran gagrak Semarangan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Semarangan, banyak mengeksploitasi gendhing-gendhing berbasis nada pelog. Gagrak Semarangan bisa dikatakan menerima dominasi yang kuat dari gagrak Surakarta. Meskipun demikian, permainan karawitannya yang banyak mengeksploitasi nada pelog, membuatnya sangat berbeda dan berkesan sangat gagah.
Pagelaran gagrak Pesisiran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Pesisiran, merupakan bentuk pagelaran yang paling banyak mengeksploitasi permainan gendhing-gendhing yang berbasis nada ‘slendro barang miring’ (bernada minor). Ini merupakan salah satu kekhasan yang umumnya tidak terdapat pada gagrak lainnya. Karenanya, permainan wayang, karawitan, dan vokalnya; cenderung menampilkan warna dan suasana yang sendu, romantis, dan juga sedih.
Pagelaran gagrak Jawa Timuran
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Jawa Timuran, mempunyai gaya yang sangat khas dan berbeda dengan gagrak-gagrak lain yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Kesan kuat, merdeka, enerjik, dan garang; sangatlah terlihat tidak hanya pada permainan alat-alat gamelannya, tetapi juga pada bentuk-rupa wayangnya.
Pagelaran gagrak Bali
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali, bisa dikatakan benar-benar bebda dengan yang ada di Pulau Jawa. Banyak orang yang tidak tahu, bahwa gamelan Bali yang dipakai sebagai kelengkapan karawitan wayang gagrak Bali, adalah gamelan berbasis tangga-nada slendro, dan memakai ricikan gamelan berupa gender. Karenanya, pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Bali menjadi sangat eksotis dan sangat anggun. Ini akan merupakan pagelaran yang amat sangat berbeda dengan pagelaran tari Bali misalnya (yang sudah sangat terkenal).
Pagelaran gagrak Sunda
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Sunda, berkembang sangat pesat sejak sekitar tahun 1970-an. Permainan karawitan gagrak Sunda, mulai menerima banyak perubahan sejak masa itu sampai sekarang. Gaya permainan wayang yang sangat mengeksploitasi tokoh-tokoh wayang tertentu, merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang gagrak Sunda masa sekarang.
Pagelaran gagrak Luar Jawa
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Luar Jawa, seringkali sangat dipengaruhi kondisi geografis, bahasa, dan adat kebiasaan setempat. Karenanya, pada masa sekarang kita bisa melihat gagrak Luar Jawa ini berkembang di beberapa wilayah yang berbeda, dan menghasilkan bentuk pagelaran karawitan dan/atau wayang yang berbeda-beda pula. Misalnya, pagelaran wayang gaya Jambi, Palembang, Banjar-Masin, Lombok, atau lainnya.
Pagelaran gagrak Cirebonan
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan, bisa dikatakan merupakan gabungan beberapa gagrak yang berbeda. Umumnya, merupakan gabungan gagrak Sunda (yang sangat dominan), gagrak Banyumasan (Jawa), dan beberapa di antaranya juga dengan gagrak Betawi. Pengaruh agama Islam dan budaya Cina, terasa sangat lekat dengan berbagai pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Cirebonan.
Pagelaran gagrak Betawi
Pagelaran karawitan dan/atau wayang gagrak Betawi, secara umum sangat dipengaruhi oleh gagrak Sunda dan budaya Cina.
Bram Palgunadi
sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=179105892115667
Langganan:
Postingan (Atom)